Saturday, October 1, 2011

IDENTITAS NASIONAL -


Sebuah refleksi mengenai krisis identitas bangsa
Apakah sebenarnya IDENTITAS NASIONAL?
Identitas Nasional sendiri secara teoritis memiliki sebuah arti, menurut Sedarnayati Wasni (2010) dalam buku Citizenship,
·         Kata Identitas menunjukan sifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan kesadaran diri, golongan,kelompok,komunitas, atau Negara sendiri
·         Nasional/bangsa merupakan identitas yang melekat pada kelompok lebih besar, yang diikat oleh kesamaan fisik (budaya, agama dan bahasa) dan nonfisik (keinginan,cita-cita dan tujuan)
·         Identitas Nasional adalah tindakan kelompok yang diwujudkan dalam bentuk organisasi atau pergerakan yang diberi atribut nasional.
Indonesia dikenal sebagai negara multikultural, Ditemukan sekitar 742 bahasa daerah, 1.128 suku (BPS), berbagai agama yang diakui, dan ribuan kebudayaan didalamya. Kini, untuk memadukan unsur perbedaan tersebut, Indonesia memiliki caranya sendiri. Indonesia memiliki bendera merah putih sebagai bendera negaranya, Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaanya, Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyanya, burung Garuda sebagai lambang negaranya, dan Pancasila serta Undang-Undang Dasar sebagai landasan hukumnya. Sebenarnya masih banyak lagi simbol-simbol fisik yang belum tersebutkan.  Apakah sebatas itu arti dari sebuah identitas bangsa? Saya rasa belum cukup! Identitas, merupakan hal yang membedakan (keunikan) bangsa kita terhadap bangsa lain. Melalui perbedaan itu, kita dikenal dan dihargai sebagai bangsa dalam dunia internasional.

Dulu, 17 Agustus 1945 merupakan saat pertama Indonesia didirikan dan dikenal oleh dunia. Bagaimana pandangan mereka (Masyarakat internasional)? Kita dikenal sebagai bangsa yang beradab, tidak pernah menyerah, berani membela kebenaran, dan berwawasan kebangsaan. Pernyataan-pernyataan tersebut dihubungkan dengan sikap dan nilai luhur yang kita miliki. Bangsa Indonesia selalu dikenal dengan bangsa yang  sopan, toleran, suka bergotong-royong, dan sebagainya. Bangsa ini juga tidak pernah menyerah. Kegigihan para pejuang terdahulu dalam melawan penjajah membuat seluruh dunia berdecak kagum. Selama kita benar, para pahlawan luar biasa itu tidak pernah berhenti untuk memperjuangkan hak yang seharusnya kita terima lebih awal, tanpa syarat, tanpa perjuangan. Para pahlawan revolusi juga tidak mau kalah memutar otak untuk menarik, merebut, dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Fakta-fakta diatas lah yang membuat kita bisa terkenal di mata dunia.
      Saya rasa cukup untuk membuka lembaran manis terdahulu yang pernah kita alami. Sebelum saya beropini lebih jauh mengenai topik ini, mari kita simak dengan seksama kutipan artikel berikut!

VIVAnews - Mantan Presiden Abdurrahman Wahid menilai bangsa Indonesia tidak hanya sedang mengalami krisis global. Tetapi, juga sedang diterpa krisis identitas. 
"Bangsa Indonesia krisis identitas. Pluralisme yang menjadi alasan berdirinya NKRI (Negara Kesatuan RI), terancam," ujar tokoh yang akrab disapa Gus Dur dalam acara Orasi Akhir Tahun Gus Dur, di Hotel Santika, Slipi, Jakarta Barat, Sabtu, 28 Desember 2008.
Padahal, lanjut Gus Dur, sejarah Indonesia sejak abad ke-8 telah menunjukkan kultur bangsa yang sangat toleran. Ketika itu, tambah dia lagi, tumbuh kesadaran berbangsa yang menyejahterakan rakyat. Gus Dur pun bercerita panjang soal kronologi umat Budha Sriwijaya yang berpindah ke Pulau Jawa melewati kerajaan-kerajaan Hindu. 
"Tidak terjadi perang berdasar agama. Bahkan, abad ke-9 umat Hindu dan Budha bisa hidup bersama. Masa Majapahit, bahkan orang Tionghoa yang di Indonesia mayoritas muslim, diterima sebagai pribumi. Budha, Hindu, dan santri bisa hidup bersama di bawah lindungan armada laut Tiongkok" tegas Gus Dur.Dalam acara ini tampak hadir tim panelis yang terdiri dari Frans Magnis Suseno, Bondan Gunawan, Effendi Ghazali, dan mantan juru bicara Gus Dur saat jadi Presiden RI, wimar Witoelar.

Setelah membaca artikel tersebut, Apa komentar Anda?
Bagaimana Anda menyikapinya?
Mungkin ungkapan yang dikemukakan Gus Dur hanyalah satu dari ribuan pendapat  masyarakat Indonesia yang mulai tersadar akan krisis identitas yang sedang dialami bangsa ini. Berapa banyak kesenjangan yang anda temukan? Banyak dari mereka yang melestarikan budaya daerah namun banyak pula yang bertingkah kebarat-baratan, banyak dari mereka yang peduli akan eksistensi bahasa Indonesia namun banyak pula yang istilah asing yang mendominasi atau bahkan mencampur dengan bahasa tanpa aturan. Berapa banyak slogan-slogan “cintailah produk dalam negeri” berserakan ? namun komoditas impor masih sangat mendominasi pasar dalam negeri. Berapa banyak remaja mulai bangga dengan budaya orang lain, yang mereka pikir lebih dinamis dan kekinian. Itulah realitas kesenjangan yang kini sedang terjadi di Indonesia. Percaya atau tidak, saya rasa Anda semua menyadari, melihat, atau bahkan mengalami.
Kita harus tersadar, Saudara. Masa penjajahan yang dulu pernah terjadi, kini kembali. Siapa yang dijajah? Identitas bangsa kita, yaitu bangsa Indonesia. Sejak masa sekolah, kita selalu diajarkan mengenai Pancasila dan pengamalanya. Dari situ kita tahu bahwa Pancasila memiliki fungsi filterisasi. Pancasila sebagai filter atau penyaring, seharusnya bisa benar-benar menyeleksi budaya mana yang bisa masuk ke Indonesia. Itupun dengan syarat, mereka dapat menjadi pelengkap dan pengokoh pilar yang mulai goyah. Berbagai cara telah dilakukan oleh pemerintah semata untuk internalisasi akan pentingnya penanaman nilai Pancasila. Penyuluhan, penataran, sosialisasi langsung dan sebagainya telah diupayakan. Namun, hasilnya hanya sekian persen dari pengeluaran yang dikorbankan. Lalu apa yang salah? Mengapa kian hari kian sering ditemukan masyarakat kita yang dengan bangganya menunjukan identitas bangsa lain, yang justru bukan bangsanya sendiri. Apakah karena kebudayaan kita yang kolot? Atau statis? Lalu bagaimana? Apakah kita harus menggunakan batik setiap hari, atau berbahasa Indonesia walaupun klien kita tidak mengerti? Bukan. Nasionalis, menunjukan Identitas Nasional tidak serumit yang kita bayangkan. Hanya lakukan yang terbaik untuk bangsa Anda, lakukan untuk membuat harum bangsa Anda. Melalui prestasi yang nyata. Bukan sekedar ucapan belaka.

Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan satu pihak akan krisis identitas yang sedang berlangsung. Sebut saja pemerintah, organisasi masyarakat dan sebagainya. Mereka telah berupaya memperbaiki dan atau merekontruksi pilar kebangsaan yang mulai rapuh. Mereka berupaya memperbaiki, walaupun dalam realisasinya terkadang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Yang menjadi pokok sekarang adalah bukan menyalahkan mereka yang tidak nasionalis sehingga membuat identitas menjadi krisis. Karena nasionalis yang dinamis saat ini adalah membuktikanya dalam hal nyata bukan teoritis. Generasi yang dikatakan penerus atau lebih terkenal dengan istilah pelurus bangsa, harus bekerja ekstra agar globalisasi yang terjadi saat ini menjadi pondasi baru dan semangat agar Indonesia bisa terus maju. 

Ditulis oleh : Octaviniant Aspary
Untuk Mata Kuliah Kewarganegaraan
 

No comments: